Membangun Ketahanan Energi Lewat Kilang Mini

0
169

Ketahanan energi Indonesia sangat rentan bila dibandingkan negara-negara tetangga. Bahkan, diumpamakan jika negara ini dalam kondisi perang, akan langsung kalah. Sebagai gambaran betapa minimnya simpanan energi nasional.

“Kita tidak punya cadangan nasional sama sekali. Bisa bayangkan kalau perang lima hari. Habis kita karena tidak ada BBM. ‎Artinya energi kita situasinya kritis,” ujar anggota Komisi VII DPR RI‎ Dito Ganinduto, Senin (7/3/2016).

Cadangan energi nasional untuk minyak mentah (crude oil) disebut hanya mampu selama 14 hari, bahan bakar minyak (BBM) 22 hari, dan elpiji 17 hari. Bandingkan saja dengan negara lain. Malaysia dengan penduduk hanya 28 juta jiwa, memiliki cadangan BBM 25 hari. Kemudian China berpenduduk 1,3 miliar jiwa memiliki cadangan BBM 90 hari.

Sementara negara maju, Amerika Serikat yang berpenduduk 310 juta jiwa, memiliki cadangan BBM 260 hari. “Indonesia, penduduknya 250 juta jiwa, cadangan BBM-nya cuma 22 hari,‎” Dito kembali menegaskan.

Pemerintah pun menggaungkan kilang mini, sebagai solusi untuk mengantisipasi minimnya ketahanan energi ini. Aturan pembangunan fasilitas ini tengah digodok pemerintah. Pembangunan kilang mini akan ditawarkan lewat tender.

Lokasi

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) I Gusti Nyoman Wiratmaja mengakui jika Indonesia adalah negara besar namun hanya memiliki sedikit kilang minyak. Sebab itu negara ini memerlukan tambahan kilang untuk memproduksi bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.

Pemenuhan BBM dari dalam negeri merupakan salah satu kunci ketahanan energi. Hal tersebut seperti yang diterapkan Rusia dengan memperbanyak kilang berkapasitas kecil atau kilang mini.

‎”Contoh di Rusia di mana-mana banyak kilang mini. Karena field jauh-jauh dan kedua siap siap perang. Kalau perang, dibom yang mana? Kalau kita cuma ada 4 kilang, dibom habis kita,” dia menambahkan.

Menurut Wirat, kilang mini akan dibangun dekat sumur minyak yang produksinya rendah. Dengan dengan begitu akan meningkatkan efisiensi. Itu karena dapat memotong biaya angkut minyak mentah yang akan diolah.

Selain itu juga dapat mengamankan pasokan BBM wilayah sekitar sumur yang biasanya terpencil. Kilang-kilang minyak mini yang akan dibangun tersebut, berkapasitas rata-rata 10 ribu barel per hari.

“Di sisi hulu setelah minyak dijadikan biasanya kita transport dulu ke kilang yang cukup jauh. Dan efisiensi operasi. Kita negara besar dan banyak remote area dan marginal field. Minyak sedikit cuma 3.000 barel dan transport jauh,‎ sehingga kalau ada kilang mini bisa dibuatkan ketahanan,” ungkap dia.

Selama ini, produsen minyak atau Kontrakor Kerjasama (KKKS) yang mengelola lapangan-lapangan marjinal dengan produksi yang terbilang kecil, harus mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk mengangkut minyak mentah ke floating storage yang jauh letaknya.

Jika minyak dibawa ke floating storage, termasuk skema hulu yang berarti ada biaya distribusi yang termasuk cost recovery.

Sebaliknya, jika minyak hasil produksi diambil dekat mulut sumur maka termasuk skema hilir dan lebih menguntungkan karena biaya distribusi ditiadakan. Karena itulah, Pemerintah akan membangun kilang minyak mini dengan menggandeng swasta.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY