Menstabilkan Harga, Perum Bulog Gelar Operasi Pasar Jagung

0
194

Guna menstabilkan harga jagung, Perum Bulog kini mulai menggelar operasi pasar (OP). Namun jagung yang digunakan OP tidak dijual di pasar, melainkan dijual ke industri pakan ternak dan peternak. Jumlahnya untuk wilayah Jawa Timur saat ini disalurkan sebanyak 200 ton.

Kegiatan OP ini digelar mulai hari ini sampai bulan Maret mendatang. Ini terus dilakukan tergantung stabilisasi harga di pasar. OP ini sangat penting karena harga jagung di pasaran umum sudah Rp 5.500-6.000 per kg. Terakhir kita cek kemarin harganya sudah Rp 6.200 padahal sebelumnya Rp 4.000. Dalam OP ini, jagung kami jual Rp 3.600 per kg.

Melalui OP ini diharharap agar harga pakan ternak bisa kembali normal, sehingga harga daging ayam dan telur juga bisa kembali stabil. Untuk pelaksanaan OP di Jatim ini, kata dia, dilakukan untuk tujuh titik distribusi, yakni pengusaha pakan ternak dan peternak di Kediri, Blitar, Jember, Malang, Pasuruan, Jember, dan Surabaya.

Adapun jagung yang digunakan untuk OP tersebut merupakan jagung impor asal Brazil dengan kualitas standar karena peruntukannya sebagai pakan ternak. Secara nasional, sampai Maret mendatang disiapkan jagung sebanyak 600 ribu ton, untuk realisasi awal hanya 1.200 ton di empat provinsi di Indonesia.

Di Wilayah Lain OP dilaksanakan oleh Divre DKI Jakarta di Cigading Banten, Jawa Barat di Cirebon, Semarang Jawa tengah, dan Jatim, dengan OP tersebut dalam minggu ini sudah bisa ada dampak penurunan harga jagung di pasaran, termasuk harga daging ayam dan telur.

Kepala Biro Perekonomian Setdaprov Jatim, Jumadi menuturkan, OP ini menjadi kebijakan pusat karena terjadinya kenaikan harga daging ayam dan telur yang terlalu tinggi. “Biasanya kenaikan harga paling tajam itu menjelang hari raya, karena ekspektasi pasar dan permintaan tinggi jadi tidak seimbang dengan stok pasar. Ini OP memang untuk stabilisasi harga jagung yang mengalami peningkatan 91 persen dari harga normal,” jelasnya.

Menurutnya, kenaikan harga komoditi jagung tidak baik karena berdampak pada kenaikan komoditi lain seperti telur yang menjadi lebih mahal. “Telur naik cukup tinggi mencapai Rp 25 ribu per kg. Sebelumnya gak segitu. Jadi ini dalam melalui OP ini peran Pemprov Jatim punya tanggung jawab sebagai TPID (tim pengendali inflasi daerah) dan sebagai dewan ketahanan pangan,” tuturnya.

Guna memantau perkembangan stabilisasi harga tersebut, pihaknya secara bertahap akan terus mengecek perkembangan harga setiap harinya. “Bisa dicek langsung ke Disperindag dari SMS Hp harganya. Secara hukum ekonomi (dengan adanya OP) pasti harga akan terkendali. Sentra ternak sudah dipetakan agar bisa segera menyerap. Kami akan terus mendorong Perum Bulog agar pelaksanaan OP lebih maksimal,” tukasnya.

Sumber : http://kominfo.jatimprov.go.id/

Foto : Biro Adm. Perekonomian

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY